Eranusanews.com – Di tengah kemajuan teknologi dan akses informasi yang semakin luas, kesenjangan literasi keuangan antara laki-laki dan perempuan masih menjadi persoalan nyata. Data dari berbagai survei nasional dan internasional menunjukkan bahwa perempuan cenderung memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal ini tidak hanya berdampak pada pengelolaan keuangan pribadi, tetapi juga mempengaruhi kesempatan perempuan untuk mandiri secara finansial.
Literasi keuangan bukan sekadar soal kemampuan menghitung atau menyusun anggaran. Ini mencakup pemahaman tentang produk keuangan seperti tabungan, investasi, asuransi, hingga pinjaman. Rendahnya literasi keuangan pada perempuan bisa berujung pada keputusan finansial yang kurang tepat, dan pada akhirnya memperbesar risiko kerentanan ekonomi, terutama saat menghadapi situasi darurat atau perubahan status keluarga.
Salah satu penyebab kesenjangan ini adalah peran sosial dan budaya yang secara historis membentuk persepsi bahwa urusan keuangan lebih banyak menjadi tanggung jawab laki-laki. Akibatnya, perempuan sering kali tidak didorong, atau bahkan tidak diberi ruang, untuk memahami dan mengelola aspek-aspek keuangan dalam rumah tangga maupun kehidupan profesional. Padahal, keterampilan ini sangat penting untuk semua orang, tanpa memandang gender.
Selain itu, banyak perempuan yang terjebak dalam sektor informal atau pekerjaan dengan penghasilan rendah dan tidak tetap, sehingga akses mereka terhadap layanan dan edukasi keuangan pun lebih terbatas. Bahkan ketika produk keuangan tersedia, masih banyak perempuan yang merasa tidak percaya diri atau tidak memiliki informasi yang cukup untuk menggunakannya secara optimal.
Untuk menjembatani kesenjangan ini, diperlukan pendekatan yang lebih inklusif dalam edukasi keuangan. Program literasi keuangan harus menyasar kelompok perempuan sejak usia dini, termasuk di lingkungan sekolah dan komunitas. Peran media, lembaga keuangan, dan pemerintah sangat krusial untuk menyediakan informasi yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari perempuan.
Kesenjangan literasi keuangan antargender bukan sekadar isu individu, melainkan persoalan sosial yang berimplikasi pada ketimpangan ekonomi yang lebih luas. Memberdayakan perempuan dalam hal literasi keuangan berarti memberi mereka kendali lebih besar atas masa depan mereka, memperkuat fondasi keluarga, dan pada akhirnya meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.







