Oleh: Desfita, S.Si (Guru IPAS )
Eranusanews.com – Laut selalu memberi, tapi manusia selalu mengambil.
Kita memancing tanpa batas, mengebor tanpa etika, dan membuang tanpa rasa bersalah. Dari limbah rumah tangga yang terbawa sungai, hingga bangkai kapal industri yang ditenggelamkan sembarangan — semua bermuara ke satu tempat: laut yang dulu jernih, kini berubah menjadi kuburan peradaban.
Kita suka menyebut diri sebagai negara maritim. Tapi seberapa besar kita benar-benar menjaga laut?
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, setiap tahun lebih dari 600 ribu ton sampah plastik masuk ke laut Indonesia. Itu belum termasuk limbah industri kimia, tumpahan oli, dan logam berat dari kapal-kapal tua yang dibuang begitu saja ke dasar perairan.
Dan ingat: laut punya ingatan.
Sekali terkontaminasi, butuh puluhan bahkan ratusan tahun untuk pulih. Mikroplastik masuk ke tubuh ikan, lalu ke meja makan kita. Logam berat dari bangkai kapal mengendap di dasar laut, mematikan terumbu karang, dan merusak rantai makanan. Kerusakan ini tidak terlihat langsung — tapi pasti, dan berbahaya.

Sayangnya, banyak pelaku industri masih menganggap laut sebagai “tempat sampah yang tak bersuara”. Mereka membuang limbah tanpa laporan, membiarkan kebocoran tanpa perbaikan, dan memilih jalan murah ketimbang jalur etis. Semua karena tahu: penegakan hukum kita lemah, dan pengawasan sering kali bisa dinegosiasi.
Sudah saatnya kita mengubah ini. Bukan hanya dengan kampanye satu hari bertema “Save Our Ocean” — tapi dengan tindakan nyata dan sistemik.
Seruan untuk Tindakan Nyata:
1. Audit dan Transparansi Industri Perkapalan
-
Setiap kapal yang sudah tidak layak harus di-scrap secara bertanggung jawab di darat, bukan dibuang ke laut.
-
Kementerian Perhubungan dan Kementerian LHK harus membuka data publik: berapa banyak kapal rusak dibongkar resmi, dan berapa yang hilang “tanpa jejak”.
2. Penegakan Hukum Lingkungan yang Tegas
-
Terapkan sanksi maksimal dari UU No. 32 Tahun 2009 kepada pelaku pencemaran laut.
-
Libatkan pengawasan publik dan jurnalisme investigasi untuk membuka praktik pelanggaran yang selama ini tersembunyi.
3. Pendidikan Lingkungan Sejak Dini
-
Anak-anak perlu tahu bahwa membuang sampah ke selokan bisa berujung di laut. Pendidikan lingkungan bukan opsional — itu harus jadi bagian utama kurikulum.
4. Dorong Industri Laut Ramah Lingkungan
-
Beri insentif dan sertifikasi bagi perusahaan perkapalan dan pelabuhan yang mematuhi standar pengelolaan limbah laut.
-
Terapkan sistem green shipping dan daur ulang material kapal secara lokal.
5. Keterlibatan Komunitas Pesisir
-
Libatkan nelayan dan warga pesisir dalam program pemantauan dan pelaporan pencemaran laut. Mereka adalah garda terdepan, bukan penonton.
Kita Tidak Bisa Diam Lagi
Kalau industri tak mau berubah, masyarakat harus bersuara.
Kalau hukum tak ditegakkan, media dan akademisi harus menyorot.
Kalau laut terus dibebani, maka jangan salahkan alam jika suatu hari ia berhenti memberi.
Laut tak bisa bicara, tapi ia bisa membalas.
Dan ketika laut murka, badai bukan hanya datang dari angin — tapi dari keserakahan kita sendiri.




