Eranusanews.com, – Raden Mas Panji Sosrokartono adalah putra dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan Nyai Ajeng Ngasirah, lahir di Mayong, Jepara, pada 10 April 1877. Dua tahun lebih tua dari adiknya, Raden Ajeng Kartini, Sosrokartono berasal dari keluarga ningrat yang progresif dan tidak kaku terhadap feodalisme, meskipun masih tergolong dalam Klan Tjondronegoro, turunan dinasti Majapahit.
Sejak kecil, Sosrokartono sudah menunjukkan kegemaran membaca dan semangat belajar. Ayahnya, yang sangat peduli terhadap pendidikan anak-anaknya, menyekolahkan Sosrokartono di sekolah Belanda, ELS (Europeesche Lagere School) di Jepara, dan mempekerjakan guru-guru privat untuk mengajar anak-anaknya. Di usia 8 tahun, Sosrokartono sudah mahir berbahasa Belanda dan Jawa, menjadikannya seorang bilingual sejak dini.
Setelah lulus dari ELS, Sosrokartono melanjutkan studinya di Hogere Burgerschool (HBS) di Semarang, setara dengan SMP dan SMA saat ini. Di HBS, Sosrokartono menunjukkan kecerdasan luar biasa, mempelajari bahasa Inggris dan Latin selain bahasa Belanda dan Jawa. Di masa remajanya, ia sudah menguasai banyak bahasa asing dan gemar menulis.
Pada tahun 1897, Sosrokartono lulus dari HBS Semarang dengan prestasi cemerlang dan melanjutkan studi ke Belanda, sebuah privilese langka bagi siswa bumiputra pada masa itu. Ia awalnya mengambil jurusan Teknik Sipil di Polytechnische School di Delft, namun kemudian pindah ke University of Leiden untuk mendalami Sastra Timur.
Di Leiden, kecerdasan Sosrokartono semakin dikenal. Ia berjumpa dengan Dr. Abdul Rivai dan bergabung dengan majalah “Bintang Hindia”, yang menjadi katalis semangat nasionalisme di Nusantara. Pada tahun 1902, Sosrokartono lulus dengan predikat summa cum laude dan menjadi Doctorandus.
Selama di Belanda, Sosrokartono aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk menyampaikan pidato di Kongres Bahasa dan Sastra Belanda di Belgia, di mana ia memperjuangkan hak-hak bumiputra dan menentang kolonialisme. Pidatonya yang kritis membuatnya dikenal di Eropa, namun juga menghadapi banyak tantangan, termasuk dari Profesor Snouck Hurgronje yang menolak pencalonannya untuk studi doktoral.
Setelah lulus dari Leiden, Sosrokartono menjadi penerjemah di Wina, Austria, dan kemudian wartawan untuk surat kabar The New York Herald selama Perang Dunia I. Ia juga bekerja sebagai penerjemah untuk pihak Sekutu dan kedutaan Perancis di Den Haag, serta Liga Bangsa-Bangsa (cikal bakal PBB).
Pada tahun 1925, Sosrokartono pulang ke Tanah Air setelah 28 tahun di Eropa. Ia menetap di Bandung dan bergabung dengan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, menjadi guru dan kepala sekolah di cabang Bandung, Nationale Middlebare School. Sosrokartono terus berkontribusi melalui pendidikan hingga wafat pada 8 Februari 1952.
Raden Mas Panji Sosrokartono, meskipun namanya kurang dikenal dibandingkan para pahlawan nasional lainnya, memberikan kontribusi vital bagi pergerakan nasional menuju kemerdekaan Indonesia. Idealisme dan kecerdasannya juga memberi pengaruh besar pada sosok adiknya, Raden Ajeng Kartini. (Red)
