Muhammad dan Al-Qur’an (Resapan Buku Imajinasi Islam Sebuah Rekonstruksi Islam Masa Depan)

News, Opini5369 Dilihat

Warisan Nabi Muhammad SAW yang paling monumental dan memiliki daya hidup adalah Al-Qur’an. Sekalipun Muhammad SAW sebagai manusia telah meninggal, namun Al-Qur’an memiliki ruh yang bisa diajak berdialog dengan cerdas sepanjang masa, oleh siapa pun yang secara tulus dan serius ingin berdialog dengannya. Bahkan juga terhadap mereka yang menkritik dan menghujatnya, Al-Qur’an dari dulu tidak kehilangan pesona dan daya intelektualnya. Oleh karena itu, tidak terlalu salah munculnya anggapan bahwa Al-Qur’an punya daya magis. Punya daya pesona. Punya daya dobrak. Bahkan, ada yang merasakan Al-Qur’an kadang seperti interrogator yang meneror pikiran dan perasaan kita, melepaskan kedok-kedok kepalsuan dan kejumudan berpikir yang kita kenakan sehari-hari.

Terhadap mereka yang melawan, Al-Qur’an memiliki kekuatan yang menaklukkan (mukjizat). Sedangkan bagi yang bersimpati, Al-Qur’an adalah petunjuk ke arah jalan kebenaran yang datang dari Tuhan melalui Muhammad SAW.

Sepengetahuan saya, tidak ada kitab suci yang dihafal secara utuh oleh umat beragama kecuali al Qur’an. Bahkan banyak anak-anak usia Sekolah Dasar sudah bisa menghafalnya. Lebih dari itu, hanya Al-Qur’an sebagai sebuah teks yang telah menginspirasi munculnya penafsiran baru dari zaman ke zaman sehingga melahir- kan hypertexts yang semuanya bermula dari Al-Qur’an dan merujuk pada Al-Qur’an. Tak terbilang, berapa ribu buku dan makalah telah terbit yang isinya diinspirasi oleh Al-Qur’an. Sampai-sampai bermunculan universitas yang di dalamnya terdapat program studi pengkajian Al-Qur’an, termasuk jurusan ilmu tafsir, yang memproduksi pengetahuan baru tentang kandungan Al-Qur’an.

Bagi mereka yang membayangkan teks Al-Qur’an layaknya buku ilmiah pasti akan kecewa, bahkan bingung untuk membacanya. Buku-buku ilmiah biasanya bermula dari penyajian sebuah topik sentral, lalu masalah pokoknya dibahas dan diurai secara bertahap dalam urutan bab dan berakhir pada kesimpulan. Metode ini tidak akan dijumpai dalam Al-Qur’an. Susunan ayat serta isinya saling terkait dan menciptakan pusaran-pusaran makna, bagaikan cahaya lampu kristal yang saling menerangi dan memantulkan cahaya balik yang tak berkesudahan sehingga siapa pun yang menyelami kandungan Al-Qur’an selalu menemukan nuansa dan makna baru, meskipun, ibarat lorong jalan, pernah dilewati sebelumnya.

Hal ini tentu sangat berbeda dari sebuah buku ilmiah ataupun novel, cukup sekali membaca sudah bisa menyarikan kandungannya. Sedangkan Al-Qur’an mengandung makna berlapis-lapis. Orang akan menangkap makna sesuai dengan kemampuannya untuk menyelami, mirip kemampuan orang yang menyelam dan menjelajahi dalamnya lautan. Benturan antar hasil penafsiran tak bisa dihindari karena kapasitas keilmuan dan pendekatannya berbeda

Jadi, pada dasarnya ayat-ayat Al-Qur’an bukan berupa tulisan. Ia merupakan wahyu yang diturunkan di hati Muhammad, tanpa suara, tanpa huruf. Datang dari yang maha Absolut, diterima oleh manusia sebagai makhluk kultural lalu diartikulasikan dalam lisan Arab. Agar memori ayat-ayat Al-Qur’an yang juga dibaca dan dihafal oleh para sahabat Nabi tidak hilang, dibuatlah arsip tertulis sehingga bisa menjadi rujukan bagi siapa pun yang ingin mengenal dan mendalaminya. Saat ini arsip itu berupa benda cetakan, ada juga yang disimpan dalam hard disk yang sangat mudah diakses lewat telepon genggam. Andaikan, sekali lagi ini hanya pengandaian belaka, barang cetakan mushaf Al-Qur’an terbakar semuanya, atau dirobek, substansi Al-Qur’an tak akan hilang dan tidak ikut robek karena tersimpan utuh di hati para penghafal yang selalu bermunculan dari zaman ke zaman.