Eranusanews.com – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) mulai tahun ini meluncurkan program Sekolah Rakyat Terbuka Sepanjang Tahun. Program ini digagas sebagai alternatif pendidikan inklusif bagi anak-anak yang tidak terjangkau oleh sistem sekolah formal, baik karena faktor geografis, ekonomi, maupun sosial. Tidak lagi bergantung pada kalender akademik biasa, sekolah rakyat ini terbuka setiap hari, menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr. Hadi Nugroho, menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk pembaruan dalam cara pandang pendidikan. “Pendidikan tidak harus terjadi di ruang kelas yang kaku, dengan jadwal yang tetap. Justru kita ingin membangun pendidikan yang hidup, dekat dengan kehidupan masyarakat, dan bisa diakses kapan pun oleh siapa pun,” ujarnya dalam peluncuran program di Yogyakarta, Rabu (10/4).
Sekolah rakyat ini menyatu dengan komunitas. Proses belajar berlangsung di balai desa, rumah warga, hingga di kebun atau sawah—tergantung dari konteks lokalnya. Materi yang diajarkan juga tidak melulu soal akademik. Keterampilan hidup, literasi dasar, dan pendidikan karakter menjadi bagian utama kurikulum. Guru-guru yang terlibat adalah relawan terlatih, termasuk dari kalangan pendidik, mahasiswa, serta tokoh masyarakat.
Tidak ada ujian kelulusan seperti sekolah formal. Evaluasi dilakukan secara bertahap dan personal. Anak-anak dinilai berdasarkan perkembangan kemampuan mereka, bukan dari nilai angka semata. “Yang kami bangun adalah rasa percaya diri dan kemauan belajar. Itu yang sering kali hilang ketika anak tidak cocok dengan sistem sekolah konvensional,” kata Yani Marlina, koordinator nasional program ini.
Meski masih dalam tahap awal, respons masyarakat sangat positif. Di beberapa daerah terpencil di Nusa Tenggara dan Kalimantan, sekolah rakyat ini menjadi oase harapan. Anak-anak yang sebelumnya bekerja membantu orang tua kini bisa mencicipi dunia belajar tanpa harus meninggalkan perannya di keluarga. Waktu belajar bisa diatur secara fleksibel.
Program ini bukan tanpa tantangan. Ketersediaan relawan, dukungan logistik, serta pengakuan formal dari pemerintah daerah masih menjadi pekerjaan rumah. Namun Mendikdasmen menegaskan, keberhasilan pendidikan bukan lagi soal gedung dan seragam, melainkan bagaimana negara hadir menjangkau warganya dengan pendekatan yang manusiawi dan relevan.
