Eranusanews.com – Perusahaan teknologi asal Tiongkok, ByteDance yang dikenal luas sebagai pemilik platform video pendek TikTok kini dikabarkan tengah melirik sektor baru: industri perjalanan. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa ByteDance sedang dalam proses pembicaraan serius untuk mengakuisisi Traveloka, platform pemesanan tiket dan layanan perjalanan terbesar di Asia Tenggara.
Langkah ini mengejutkan banyak pihak. Selama ini ByteDance fokus di bidang media sosial, hiburan, dan teknologi kecerdasan buatan. Namun, jika kabar ini benar, maka ini akan menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan raksasa tersebut ingin memperluas portofolio bisnisnya ke sektor yang jauh berbeda, yakni pariwisata digital.
Menurut sumber yang dekat dengan proses negosiasi, pembicaraan antara kedua perusahaan telah mencapai tahap lanjutan. Meski belum ada pengumuman resmi, nilai akuisisi diperkirakan mencapai miliaran dolar AS. Traveloka sendiri, yang berbasis di Indonesia, saat ini melayani jutaan pengguna di berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Pengamat menilai bahwa minat ByteDance pada Traveloka bukan tanpa alasan. Dengan basis pengguna TikTok yang sangat besar di Asia Tenggara, integrasi layanan perjalanan ke dalam platform sosial bisa membuka peluang baru untuk monetisasi—misalnya lewat fitur pemesanan langsung dari aplikasi, promosi destinasi wisata, atau kerja sama dengan konten kreator pariwisata.
Di sisi lain, bagi Traveloka, masuknya ByteDance sebagai pemilik baru bisa menjadi suntikan energi dan dana segar yang dibutuhkan untuk memperkuat posisi di tengah persaingan ketat dengan pemain global seperti Booking.com dan Expedia. Teknologi ByteDance dalam analitik data dan kecerdasan buatan juga dinilai bisa meningkatkan pengalaman pengguna di platform Traveloka.
Hingga berita ini diturunkan, baik pihak ByteDance maupun Traveloka belum memberikan komentar resmi. Namun, jika kesepakatan ini benar terjadi, maka ini bisa menjadi salah satu akuisisi teknologi terbesar di Asia Tenggara tahun ini—dan menandai era baru di mana batas antara hiburan digital dan layanan kebutuhan sehari-hari semakin kabur.
