LOMBOK TENGAH – Memasuki pertengahan tahun 2026, dunia sedang tidak baik-baik saja. Masyarakat global hari ini tidak hanya bertarung melawan amukan alam berupa fenomena El Nino “Godzilla” yang membawa kekeringan ekstrem, tetapi juga terjepit di antara eskalasi konflik bersenjata yang kian memanas di Timur Tengah. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah menciptakan guncangan hebat pada sektor energi dunia, sementara El Nino mengancam fondasi paling dasar kehidupan manusia: ketahanan pangan.
Kondisi ini memicu respons serius dari berbagai elemen masyarakat di tingkat akar rumput. Di Lombok Tengah, para penggerak lingkungan dan petani mulai menyuarakan alarm peringatan sekaligus menawarkan solusi konkret untuk bertahan hidup di tengah “badai” ganda ini.
Samsudin, seorang pemerhati lingkungan kawakan di Lombok Tengah, memberikan pandangan yang tajam mengenai situasi ini. Menurutnya, masyarakat harus menyadari bahwa dunia sedang menghadapi dua front pertempuran sekaligus.
“El Nino adalah ancaman langsung terhadap ketahanan pangan nasional. Sawah-sawah kita terancam retak dan kering. Di sisi lain, perang antara Iran, Amerika, dan Israel adalah ancaman nyata bagi kedaulatan energi. Ketika jalur distribusi minyak terganggu dan harga energi melambung, seluruh sendi ekonomi akan rontok,” ujar Samsudin saat ditemui di kediamannya.
Ia memprediksi bahwa kekeringan panjang dan kelangkaan bahan energi pasti akan terjadi di sepanjang tahun 2026 ini. Namun, Samsudin menekankan bahwa langkah menghadapi bencana iklim dan dampak peperangan global sebenarnya memiliki satu muara solusi yang sama: kembali ke akar budaya lokal dan penguatan kemandirian.Samsudin memberikan saran praktis bagi masyarakat untuk menghadapi masa sulit ini. Salah satunya adalah dengan melakukan percepatan tanam menggunakan varietas padi super genjah. Salah satu yang menjadi andalan adalah Gamagora 7.
“Kita tidak punya banyak waktu. Gamagora 7 adalah jawaban karena hanya membutuhkan waktu 80 hingga 90 hari setelah tanam (HST) untuk bisa dipanen. Ini sangat krusial untuk mencuri start sebelum air benar-benar hilang dari saluran irigasi akibat El Nino,” jelas Samsudin.
Selain soal teknis penanaman, Samsudin mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali budaya Lumbung. Ia menyarankan agar hasil panen dari varietas genjah tersebut tidak terburu-buru dijual ke pasar, melainkan disimpan sebagai cadangan keluarga. Budaya menyimpan pangan adalah kearifan lokal yang terbukti mampu menyelamatkan nenek moyang dari bencana kelaparan di masa lalu, dan kini pola tersebut harus diadopsi kembali sebagai perisai menghadapi krisis global.
Senada dengan Samsudin, Pajarudin, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Remaja Tani, memberikan perspektif yang lebih mendalam mengenai peran petani di masa krisis ini. Pajarudin melihat bahwa di tengah situasi yang karut-marut ini, posisi petani menjadi sangat sakral.
“Kita sering lupa bahwa yang menjadi ujung tombak keberlangsungan kehidupan, terutama di masa sulit saat ini dan masa depan, adalah petani. Di tengah isu perang dan iklim yang terasa seperti tanda-tanda akhir zaman, makanan adalah inti pokok kehidupan. Tanpa energi kita mungkin gelap, tapi tanpa pangan kita binasa,” tegas Pajarudin.
Ia pun memberikan kritik membangun terhadap pemerintah. Menurutnya, kebijakan negara harus lebih berpihak dan memberikan perhatian ekstra kepada petani. Subsidi pupuk, kemudahan akses air, dan perlindungan harga harus menjadi prioritas utama jika negara ingin selamat dari ancaman kelaparan.
Pajarudin tidak hanya bicara teori. Ia mengajak seluruh anggotanya dan masyarakat luas untuk melakukan gerakan menanam secara masif di pekarangan maupun lahan yang tersedia. Strateginya adalah diversifikasi pangan secara mandiri.
“Jangan hanya terpaku pada satu komoditas. Saya mengajak semua petani untuk terus menanam sebisa mungkin. Tanam padi di sawah, sayur-sayuran di polibag atau pekarangan rumah, pelihara ikan di kolam kecil, dan ternak ayam sebagai sumber protein. Jika setiap rumah tangga memiliki kemandirian pangan kecil-kecilan, kita tidak perlu takut pada fluktuasi harga akibat perang di luar negeri,” tambahnya.
Gerakan ini merupakan bentuk perlawanan terhadap krisis energi dan pangan. Dengan memproduksi makanan sendiri, ketergantungan masyarakat terhadap rantai pasok global yang sedang terganggu akibat perang dapat dikurangi.
Tahun 2026 diprediksi akan menjadi ujian berat bagi ketangguhan bangsa. El Nino yang mengeringkan bumi dan peperangan yang membakar harga energi adalah kombinasi yang mematikan. Namun, suara-suara dari Lombok Tengah seperti Samsudin dan Pajarudin memberikan harapan bahwa dengan kebijaksanaan lokal, inovasi teknologi pertanian seperti Gamagora 7, dan keberpihakan pemerintah yang nyata, masyarakat kecil bisa bertahan.
Kesimpulannya, menghadapi ancaman global tidak selalu membutuhkan senjata canggih, melainkan cangkul di tangan petani, benih yang tepat di tanah, dan lumbung yang terisi penuh di setiap desa.












