Eranusanews.com – Pemerintah terus mendorong pemerataan akses pendidikan di seluruh pelosok Indonesia. Hingga Mei 2025, sebanyak 53 Sekolah Rakyat telah rampung dibangun dan mulai menerima peserta didik dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi. Program ini merupakan bagian dari upaya menjawab kebutuhan pendidikan dasar yang terjangkau, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Sekolah Rakyat yang dikembangkan ini mengusung konsep pendidikan berbasis komunitas, dengan pendekatan lokal yang adaptif terhadap budaya setempat. Fasilitasnya sederhana, namun memadai, dan tenaga pendidik berasal dari kombinasi guru tetap dan relawan yang telah mendapatkan pelatihan khusus. Pemerintah daerah juga terlibat langsung dalam proses pengelolaan dan pengawasan, memastikan program berjalan sesuai sasaran.
Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Sekolah Rakyat bukanlah lembaga darurat atau alternatif, melainkan bagian dari sistem pendidikan nasional yang inklusif. Kurikulumnya disesuaikan dengan standar nasional, namun diberi ruang untuk penyesuaian kontekstual, seperti pengenalan kearifan lokal dan keterampilan praktis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Keberadaan 53 sekolah ini sudah memberikan dampak nyata. Di Kabupaten Sumba Barat, misalnya, angka partisipasi sekolah dasar meningkat hingga 18 persen sejak Sekolah Rakyat mulai beroperasi. Orang tua yang semula kesulitan menyekolahkan anak karena jarak atau biaya kini memiliki pilihan yang lebih terjangkau dan dekat dengan tempat tinggal mereka.
Pemerintah menargetkan penambahan 100 Sekolah Rakyat lagi hingga akhir tahun 2025. Saat ini, proses identifikasi lokasi dan pelibatan komunitas sedang berlangsung. Fokus utama adalah daerah-daerah yang selama ini belum tersentuh layanan pendidikan formal secara memadai. Pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan LSM, swasta, dan tokoh masyarakat dalam pengembangan sekolah ini.
Langkah ini menjadi cermin komitmen negara untuk memastikan tidak ada anak Indonesia yang tertinggal dari hak dasarnya: pendidikan. Sekolah Rakyat bukan sekadar bangunan fisik, tetapi jembatan harapan bagi masa depan generasi muda di pelosok negeri. Dengan gotong royong dan perhatian berkelanjutan, cita-cita “pendidikan untuk semua” bukan lagi impian.







