Ritual Tiwah di Kalimantan Tengah: Menghantar Roh Menuju Lewu Tatau

Eranusanews.com, – Ritual Tiwah adalah salah satu upacara adat yang sakral dan penuh makna bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Upacara ini merupakan bagian dari tradisi leluhur yang terus dilestarikan sebagai penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal dunia. Tiwah bukan hanya sekadar prosesi pemakaman, tetapi juga simbol dari keyakinan spiritual masyarakat Dayak tentang kehidupan setelah kematian.

Sejarah dan Makna

Tiwah berasal dari kepercayaan Kaharingan, agama asli suku Dayak yang telah ada sejak zaman nenek moyang mereka. Ritual ini bertujuan untuk menghantar roh orang yang telah meninggal dunia menuju Lewu Tatau, yang diyakini sebagai tempat peristirahatan abadi di alam baka. Dalam kepercayaan ini, roh yang telah di-Tiwah-kan akan mencapai kedamaian dan kebahagiaan.

Proses dan Pelaksanaan

Upacara Tiwah biasanya dilakukan beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah kematian seseorang. Prosesnya melibatkan beberapa tahapan, antara lain:

  1. Persiapan Awal: Keluarga yang akan melaksanakan Tiwah mempersiapkan segala kebutuhan upacara, termasuk makanan, minuman, dan perlengkapan ritual. Mereka juga harus mengundang tokoh adat dan pendeta Kaharingan untuk memimpin upacara.
  2. Mambatur: Tahap ini adalah penggalian tulang belulang dari tempat pemakaman sementara. Tulang-tulang tersebut kemudian dibersihkan dan ditempatkan dalam wadah khusus yang disebut sandung.
  3. Penyembelihan Hewan Kurban: Bagian penting dari Tiwah adalah penyembelihan hewan kurban, seperti kerbau atau babi. Darah hewan kurban dipercaya sebagai persembahan kepada roh nenek moyang dan dewa-dewa agar mereka memberkati perjalanan roh menuju Lewu Tatau.
  4. Ritual Penyucian: Tulang belulang yang telah ditempatkan dalam sandung kemudian disucikan melalui berbagai ritual yang dipimpin oleh pendeta Kaharingan. Prosesi ini melibatkan doa-doa, tarian, dan nyanyian adat.
  5. Penempatan di Sandung: Sandung yang telah disucikan kemudian ditempatkan di lokasi yang telah ditentukan. Biasanya, sandung diletakkan di tempat yang tinggi sebagai simbol penghubung antara dunia manusia dan dunia roh.
  6. Pesta Rakyat: Setelah semua ritual selesai, masyarakat mengadakan pesta besar sebagai bentuk syukur dan penghormatan. Pesta ini diisi dengan berbagai pertunjukan seni, tari-tarian, dan jamuan makanan tradisional.

Nilai Sosial dan Budaya

Tiwah bukan hanya upacara spiritual, tetapi juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Upacara ini menjadi ajang berkumpulnya keluarga besar, mempererat tali persaudaraan, dan memperkuat identitas budaya suku Dayak. Selain itu, Tiwah juga menarik perhatian wisatawan dan peneliti budaya, sehingga turut berkontribusi dalam pelestarian dan promosi budaya Dayak di kancah nasional dan internasional.

Penutup

Ritual Tiwah adalah warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai spiritual dan sosial. Melalui Tiwah, masyarakat Dayak Kalimantan Tengah tidak hanya menjaga hubungan harmonis dengan leluhur mereka, tetapi juga melestarikan tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad. Dengan demikian, Tiwah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan identitas suku Dayak, yang patut dihormati dan dijaga kelestariannya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *