Eranusanews.com, – Kemajuan teknologi kini semakin pesat, dengan teknologi yang semakin terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan. Salah satu terobosan terbaru dalam bidang ini adalah pengembangan baterai bertenaga oksigen oleh tim peneliti dari Tianjin University of Technology, China. Baterai inovatif ini memanfaatkan oksigen dalam tubuh manusia sebagai sumber energi, menawarkan potensi signifikan dalam aplikasi medis.
Tujuan Utama dari Baterai Bertenaga Oksigen
Peneliti di Tianjin University of Technology telah menciptakan baterai yang memanfaatkan oksigen tubuh manusia sebagai sumber energinya. Profesor Xizheng Liu, salah satu peneliti utama, menjelaskan bahwa oksigen adalah sumber kehidupan yang terus ada dalam tubuh, sehingga umur baterai tidak terbatas seperti pada baterai konvensional yang bahan bakunya terbatas.
“Oksigen adalah sumber kehidupan. Dengan memanfaatkannya, kita dapat menghindari batasan yang dimiliki baterai konvensional karena pasokan oksigen dalam tubuh tidak akan pernah habis,” ujar Profesor Liu.
Baterai ini dirancang untuk digunakan dalam perangkat medis yang mendukung fungsi organ, seperti alat pacu jantung dan stimulator lambung.
Penggunaan Elektroda dalam Baterai
Baterai ini menggunakan elektroda yang terbuat dari emas dan natrium. Elektroda ini bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan listrik, sementara proses ini terlindungi oleh lapisan plastik. Sistem ini memungkinkan baterai untuk terus berfungsi tanpa kekhawatiran akan kehabisan energi, karena tubuh manusia secara konstan memproduksi oksigen yang dapat ditarik oleh katoda emas untuk berreaksi dengan elektroda natrium.
“Selama proses pembuangan, ion Na+ dan OH yang dihasilkan masuk ke dalam darah tanpa mengganggu keseimbangan elektrolit. Metabolisme zat ini tidak menimbulkan gangguan pada hati dan ginjal, menunjukkan kompatibilitas baterai yang sangat baik,” tambah Profesor Liu, yang juga menekankan potensi besar baterai ini untuk aplikasi medis.
Uji Coba pada Tikus
Uji coba baterai ini dilakukan pada tikus laboratorium, dengan baterai ditanam di bawah kulit tikus dan menghasilkan tegangan listrik antara 1,3 hingga 1,4 Volt. Tidak ditemukan efek samping atau pembengkakan pada tikus tersebut. Walaupun output energi baterai dalam uji coba ini belum mencukupi untuk perangkat implan, peneliti mengonfirmasi bahwa uji coba ini berhasil menunjukkan konsep baterai berbasis oksigen dan keselamatannya untuk aplikasi seperti alat pacu jantung yang memerlukan output sekitar 2 hingga 5 volt.
Selain menghasilkan listrik, baterai ini juga mendukung proses penyembuhan luka. Profesor Liu menjelaskan bahwa output listriknya stabil setelah perangkat ditanam dan pembuluh darah di sekitar baterai beregenerasi untuk menyuplai oksigen, yang juga membantu memantau proses penyembuhan.
Masa Depan Revolusi Baterai untuk Kesehatan
Baterai yang memanfaatkan oksigen dari tubuh manusia memiliki potensi untuk bertahan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sebelum perlu diisi ulang atau diganti. Di masa depan, baterai ini bisa memberikan daya untuk berbagai perangkat medis, mulai dari alat pacu jantung hingga implan otak, yang merupakan organ vital dalam tubuh manusia.
Para peneliti berfokus pada pembuatan baterai yang aman, efisien, dan praktis dengan menggunakan natrium sebagai anoda. Natrium, yang merupakan bagian integral dari makanan dan tubuh manusia, berperan penting dalam menjaga fungsi saraf, cairan tubuh, dan otot.
Baterai ini menjanjikan revolusi baru dalam bidang implan, dengan potensi untuk memicu pengembangan metode baru dalam pengobatan dan perawatan kesehatan. (Red)













