Muhammad dan Al-Qur’an (Resapan Buku Imajinasi Islam Sebuah Rekonstruksi Islam Masa Depan)

News, Opini5361 Dilihat

Dalam berbagai diskusi ilmiah, khususnya di Barat, adalah hal yang biasa muncul pertanyaan kritis, benarkah lafal Al-Qur’an yang beredar hari ini sama dengan yang dibaca dan dihafal oleh para sahabat Nabi? Secara ilmiah,para ilmuwan sejarah yang lebih bisa menjawab pertanyaan ini. Bagi umat beriman, keyakinan bahwa Al-Qur’an benar-benar wahyu Allah yang terjaga semata berdasarkan firman-Nya (QS al-Hijr [15]: 9).

Menurut Prof. Komarudin Hidayat: argumen tentang autentisitas Al-Qur’an yang beredar hari ini jauh lebih kuat ketimbang yang meragukan. Tradisi kekuatan hafalan masyarakat padang pasir turut mendukung argumen dimaksud. Masyarakat yang hidup di kota dan sudah terbiasa dengan budaya tulis baca umumnya daya ingatnya lemah. Terlebih hari ini dengan ditemukannya kecerdasan buatan (artificial intelligence), daya memori kita semakin melemah, tidak terlatih, tergantikan oleh Google.

Mushaf Al-Qur’an merupakan pintu masuk untuk menyelami kedalaman dan keluasan kandungan Al-Qur’an melalui susunan huruf, kata dan kalimat dengan bantuan penalaran. Namun, pada akhirnya yang bisa merasakan energi suci dari Al-Qur’an adalah hati (QS asy-Syu’ara’ [26]; al-Baqarah [2]: 97). Oleh karena itu, Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa di hari akhir nanti yang akan memperoleh kebahagiaan adalah mereka yang datang pada Tuhannya dengan hati yang damai, qalbun salim (QS asy-Syu’ara’ [26]: 88 dan 89). Kalimat-kalimat Al-Qur’an itu juga disebut ayat. Makna ayat adalah tanda (sign) yang menunjukkan sesuatu di luar dirinya. Contoh yang familier tentang sistem tanda ini adalah indeks atau penunjuk arah, misal gambar panah di pinggir jalan yang menunjukkan arah jalan ke bandara. Seseorang yang tidak mampu membaca dan memahami tanda tentu tidak memperoleh informasi yang dikandungnya.

Ada lagi tanda berupa ikon, seperti gambar sendok-garpu di samping jalan, berarti tak jauh dari itu ada restoran. Ada lagi ikon berupa gambar tempat tidur di pinggir jalan yang menunjukkan rumah sakit. Atau gambar tangki kecil yang berarti tak jauh dari situ ada tempat jualan bensin atau SPBU. Sistem tanda yang filosofis adalah berupa simbol, seperti bendera merah-putih, simbol salib, bangunan Kakbah, dan lainnya yang kandungan maknanya lebih dalam dan memerlukan perenungan serta penafsiran secara mendalam. Kita tidak bisa berhenti hanya pada pemahaman luar secara fisikal, sehingga simbol sering disebutkan sebagai mewakili kehadiran yang absen dan abstrak. Perbedaan tafsir terhadap teks agama ini tak terelakkan melahirkan berbagai pendapat dan makna yang kadang berbenturan. Itu bagian dari keluasan Islam.

Demikianlah, deretan kalimat dalam kitab suci itu merupakan tanda yang mesti dipahami untuk memperoleh informasi penting yang dituju. Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa Tuhan telah menunjukkan sekian banyak tanda akan kebesaran-Nya yang terhampar di jagad semesta ini, bahkan juga yang tersimpan dan melekat dalam diri manusia. Dengan demikian, ayat-ayat Tuhan tidak sebatas kitab suci. Lebih mendalam lagi sesungguhnya ayat-ayat Tuhan tertulis dalam hati (ayat qalbiyah), yang memantulkan cahaya dan mendatangkan getaran untuk menggapai jalan kebenaran, kebaikan, ke- indahan dan kedamaian. Ada ungkapan klasik, bintang di langit berfungsi sebagai penunjuk arah mata angin bagi para pelaut atau pengelana di padang pasir, jika mereka bisa membacanya. Sedangkan cahaya dan bisikan di hati adalah penunjuk jalan kebaikan dan kebenaran, bagi mereka yang bisa melihat dan mendengarnya. Untuk mendengarkan suara hati diperlukan suasana hening, suasana meditatif. Mungkin inilah yang dimaksud oleh sabda Rasulullah: Istafti qalbak. Jika kamu dalam kondisi ragu dan tersesat, mintalah fatwa pada hatimu. Hati yang selalu terhubung dengan Dia yang Maha Cahaya, maka hatinya akan juga memperoleh pancaran cahaya-Nya (hati nurani).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *